Sabtu, 06 Oktober 2012

SASTRA FANTASI DALAM FANTASY FIESTA 2010


A. Pendahuluan
Sastra fantasi berasal dari dongeng-dongeng rakyat yang kemudian dilanjutkan kepada mitos-mitos klasik tradisi lisan. Sastra fantasi untuk anak-anak dan remaja muncul di abad ke-19 dengan dipublikasikannya karya yang berjudul Alice in Wonderland oleh Hans Cristian Andersen dan Lewis Carroll.  Karya ini dipenuhi dengan imajinasi dunia anak-anak yang jauh dari kebenaran dunia nyata. Binatang-binatang yang dihadirkan mampu berbicara. Semuanya begitu apik disajikan dengan misteri yang dikombinasikan dalam pengalaman seorang anak bernama Alice.
Fantasi mengacu kepada genre sastra tertentu. Sastra fantasi ditulis untuk anak-anak dan remaja. Meskipun, yang mengonsumsi sastra fantasi juga dapat dinikmati oleh orang dewasa. Fantasi merupakan hasil akhir dari proses mental berimajinasi. Ia melibatkan perakitan imajinasi kepribadian yang lebih sistematis. Sastra fantasi merupakan fiksi imajinatif yang mampu mengeksplorasi kehidupan yang dipenuhi misteri tanpa dibatasi ukuran ruang dan waktu. Dengan kata lain, fantasi sastra merupakan bentuk lain dari mitos dan perjuangan antara yang baik dan jahat yang menggambarkan penyihir, peri, hutan yang gelap, mantra, hantu, hingga naga. Semuanya merupakan hasil imajinasi manusia yang didasarkan pada kisah hidup mereka sendiri, pengalaman, harapan, impian, dan rasa takut.
Fantasi ini diawali dari sebuah lamunan yang mengantarkan seseorang pada gambaran-gambaran yang berasal dari dunia nyata,maupun gambaran yang memang diciptakan di dalam imajinasi. Akan tetapi, ada beberapa orang yang tidak setuju dengan adanya fantasi yang dihasilkan dari lamunan. Menurut mereka lamunan hanya membuang waktu. Selain itu, lamunan yang terus dilakukan menyebabkan seseorang menjadi lemah menghadapi dunia nyatanya sendiri. Ia akan menolak bahkan melawan keberadaan permasalahan yang dihadirkan di dunia nyata. Oleh karena itu, para kritikus menganggap fantasi merupakan wujud kepengecutan moral dan psikologis seseorang yang lari dari kenyataan dan cenderung kontraproduktif.
Pada sisi yang lain, yaitu mereka yang berpihak pada fantasi berpendapat berbeda. Menurut mereka, fantasi dapat memfasilitasi seseorang untuk menghindari masalah, menjadikannya tangguh, dan mampu mengatasi beban hidup. Fantasi memungkinkan argumen dapat berlangsung secara produktif. Dengan demikian, seseorang yang berfantasi akan mendorong dirinya untuk merancang skenario alternatif atau mencoba peran baru untuk menghindari atau mengatasi resiko. Oleh karena itu, pendukung ini mengharapkan fantasi terus dibudidayakan.
Keberadaan fantasi yang mendapat pro-kontra memang tidak dapat dihindari. Akan tetapi, ada seseorang yang berusaha menempatkan dirinya di tengah perseteruan tersebut, yaitu Harvey Cox  yang berpendapat bahwa fantasi adalah imajinasi yang dikembangkan dan diteruskan untuk mengatasi struktur kenyataan sehari-hari. Agar fantasi itu dinamis dan kreatif, fantasi itu harus selalu berpangkal dari kenyataan dan pulang ke kenyataan. Apabila fantasi yang berpangkal pada kenyataan, namun tidak dipulangkan kepada kenyataan, akibatnya hanya lamunan kosong yang diperoleh. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus akan membuat seseorang terhambat perkembangan nilai-nilai di dalam dirinya.
Fantasi memiliki enam kualitas, antara lain:
1.    meniru dan derivatif, karena fantasi tergantung pada gambar yang pernah ada.
2.    original dan kreatif, karena berupa perakitan terhadap potongan-potongan yang dulu menjadi bentuk baru yang tidak pernah ada.
3.    konservatif, karena menciptakan kembali yang tidak ada.
4.    tempat efektif untuk perubahan, pembaharuan, pembebasan, dan penolakan terhadap keterikatan, serta menghasilkan sesuatu yang belum ada, dan menguraikan kemungkinan terhadap masa depan.
5.    memiliki cita-cita ideal yang transenden sehingga menjadi sarana pemupukan agama.
6.    subversive, merusak pilar ortodoksi, dan mengekspos kepentingan pribadi yang disembunyikan di balik konvensi dan kehormatan.

Biasanya sastra fantasi yang mendapat perhatian adalah fantasi yang menangkap keanehan yang tidak pernah terjadi di dunia nyata. Hal ini akan menjadi pertanyaan dari rasa keingintahuan pembaca untuk terus berkelana di dunia imajinasi penulis.
Fantasy Fiesta merupakan antologi cerita fantasi yang dibukukan. Buku tersebut dipenuhi daya fantasi penulisnya yang merupakan karya terbaik anak Indonesia. Adapun cerita fantasi yang dihadirkan, yaitu:
1.    Bocah Serigala dan Isyarat-Isyarat Api. Fantasi ini menceritakan tentang anak laki-laki yang bernama Cakar Serigala Memecah Bulan. Ia berusaha menyelamatkan sukunya dari bencana gunung merapi. Berita gunung merapi tersebut diperolehnya dari seekor serigala. Kemampuannya dalam memahami bahasa serigala mengantarkannya untuk menyelamatkan sukunya.
2.    Hujan. Sebuah fantasi yang melibatkan kehadiran makhluk-makhluk gaib yang terlihat di etalase sebuah toko misterius. Ternyata toko tersebut menyisakan sebuah cerita tentang seorang anak yang terbunuh dan seorang ayah yang juga terbunuh karena ingin menyelamatkan anaknya.
3.    Candu Aksara. Kisah fantasi kontemporer tentang seseorang yang memiliki kebiasaan untuk menikmati bahkan memakan buku.
4.    Boxinite. Rangkaian pertandingan tinju masa depan dengan menghadirkan alien.
5.    Aku Hidup Seribu Tahun. Fantasi kepahlawanan yang menceritakan seorang pria yang berumur panjang. Ia memiliki kekuatan yag hebat, namun menjadi lemah ketika tragedy di dalam hidupnya datang berulang, khususnya ketia ia tidak mampu menyelamatkan orang yang dicintainya.
6.    Api. Fantasi ini menggunakan latar belakang legenda rakyat Bali, Rangda. Penulis menghadirkan kekuatan supranatural dalam mengungkap misteri “si penyulut api.”
7. Apollyon. Fantasi ini menceritakan perjuangan seorang manusia biasa melawan kekuatan supranatural.
8.    Kota Para Penjarah. Kisah petualangan yang dipenuhi dengan pembalas-dendaman antara yang dijarah menjadi penjarah dan terus menerus hingga kematian mendatangi mereka.
9.    Sang Pelukis. Fantasi yang dipenuhi dengan kepahlawanan tokoh. Fantasi ini menceritakan seseorang dengan kekuatan untuk mengubah impian menjadi kenyataan.
10. Anak Lelaki dan si Pengubah Wujud. Fantasi dalam wujud dongeng yang menceritakan tentang pembalasan dendam yang terus menuai permasalahan yang tidak ada hentinya.
11. Kerinduan Buku. Fantasi ini bercerita tentang hubungan penulis sebagai “dewa” dan tokoh-tokoh dalam cerita rekaannya.
12. Dewa laut Istana Camar. Fantasi yang menceritakan tentang arti kerja sama dan nilai-nilai persahabatan dalam hidup, pekerjaan.
13. Moka si Mobil Jelaga. Fantasi dongeng yang mengajarkan untuk tidak menilai sesuatu dari penampilan. Sesuatu yang tampak tidak berguna bisa menjadi berguna dengan kreativitas dan usaha sepenuh hati, serta niat tulus untuk membantu sesama.
14. Drama Terhebat yang Pernah Ada. Fantasi yang menceritakan tentang para dewa mitologi yang mementaskan drama “sejarah” mereka sendiri dengan topeng-topeng berupa nama-nama yang berbeda.
15. Rhytma. Fantasi dongeng yang menceritakan tentang wanita yang tidak suka dipimpin pria.
16. Labirin. Fantasi ini menceritakan tentang cerita di dalam cerita yang dibuat dan diskenario oleh sang penciptanya.
17. Nama Terlarang di Angkasa. Kisah fantasi kontemporer ini mengeksplorasi alam bawah sadar manusia dan kekuatan supranatural yang mengganggunya.
18. Speak of the Devil: Perangkap. Fantasi yang menceritakan pertarungan antara manusia dan makhluk iblis. Akan tetapi, dengan perangkap iblis, manusia pun terjerat dalam perangkap.
19. Hari Terakhir. Fantasi yang menghadirkan pertarungan antara manusia yang menghakimi dewanya.
20. Matahari Sylvania. Fantasi yang menceritakan tentang perebutan kekuasaan kerajaan yang dipimpin oleh wanita.

B. Pengkategorian Fantasi
Fantasi dapat dibedakan menjadi tiga, antara lain: cerita rakyat, fantasi campuran, dan fantasi heroik-etis. Cerita rakyat adalah tradisi lisan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat tradisional. Cerita rakyat antara lainnya adalah dongeng. Sedangkan fantasi campuran merupakan gabungan antara dunia nyata dan fantasi. Fantasi campuran ini berisikan perjalanan dan petualangan dalam ruang dan waktu. Kategori yang terakhir adalah fantasi heroik-etis. Fantasi ini menghadirkan petualangan kepahlawanan dengan tokoh protagonis yang penuh dengan konsekuensi-konsekuensi yang tidak terduga dalam mengambil keputusan moral.


C. Fantasi dalam Fantasy Fiesta
Pada antologi cerita fantasi, terdapat ketiga jenis fantasi yang telah disebutkan sebelumnya. Fantasi yang menceritakan dongeng dapat ditemukan di antaranya pada Bocah Serigala dan Isyarat-Isyarat Api. Fantasi ini menceritakan tentang anak laki-laki yang bernama Cakar Serigala Memecah Bulan. Ia adalah anak dari Cakar Gagak Membelah Gunung. Fantasi ini menghadirkan dongeng ringan yang dapat dinikmati siapa saja. Penulis menghadirkan roh-roh yang menjadi kepercayaan sebuah suku yang terletak di pedalaman. Roh-roh yang dihadirkan itu antara lain, roh gunung, roh laut, dan roh tanah. Fantasi ini berusaha menceritakan tentang seorang anak yang bernama Cakar Serigala Memecah Bulan yang pernah menyelamatkan seekor anak serigala. Hingga akhirnya ia pun memiliki kemampuan memahami bahasa serigala. Ternyata, kemampuannya ini membuat sukunya selamat dari bencana gunung merapi setelah mendapat pesan larangan dari sahabatnya, serigala.
Fantasi campuran yang berisikan perjalanan ruang dan waktu dapat dibaca dengan jelas pada Boxinite.  Cerita di sini awal mulanya menceritakan olah raga tinju yang tidak hanya digemari di Bumi, melainkan di galaksi planet lain pun menyukainya, meski dengan nama penyebutan yang berbeda-beda. Hal ini terdapat pada kutipan berikut “Di Bumi ada tinju, Planet X31 di Galaksi Andromeda punya boxinite, Turbosolerum di Centraurus-A punya xiatermit. Galaksi boleh terpisah, ras boleh beda, tapi semua punya kesamaan. Menaklukan lawan di atas ring.” Demikianlah, penulis memperkenalkan seorang tokoh pemuda yang masih usia 18 tahun sebagai petinju amatiran di Indonesia, namun ia dalam hal ini berprofesi sebagai slackboy. Ia dilibatkan pada arena antar-galaksi. Makhluk-makhluk fantasi pun mulai direkayasa oleh penulis dengan menghadirkan alien-alien, di antaranya “Gring-X petarung X31. Usianya enam puluh tahun matahari X1, setara dengan tiga puluh tahun umur manusia, jika dihitung dari perputaran Bumi mengelilingi Matahari Tatasurya.” Selain makhluk galaksi yang dijadikan daya fantasi penulis, penggambaran latarnya pun merupakan hasil imajinasi penulis yang berbeda. Latar ring yang dilukiskan penulis “Ring Boxinite berbentuk persegi delapan. Luasnya satu setengah kali ring tinju Bumi. Pinggiran ring dibatasi tali pengaman setinggi lima meter.”
Fantasi heroik-etis terdapat salah satunya pada cerita Aku Hidup Seribu Tahun. Fantasi ini menceritakan tentang sisi kepahlawanan seorang pemuda yang ternyata usianya sudah ribuan tahun. Dia memiliki kekuatan dahsyat yang membuatnya menjadi makhluk abadi. Akan tetapi, keabadiannya ini menjadi dilemma yang berkepanjangan. Satu per satu ia harus dipaksa melihat orang-orang yang disayanginya meninggal. Dan yang terakhir adalah Kanara, seorang gadis yang gagal diselamatkannya dari Nifalr. Dalam hal ini, penulis menjadikan Nifalr sebagai makhluk neraka yang badannya tinggi, kulit gelap bersisik, dengan rambut lurus menyerupai duri. Sedangkan tokoh utamanya digambarkan sebagai manusia biasa yang kemudian menjadi makhluk yang mengerikan ketika berubah untuk sebuah pertarungan. Selain makhluk-makhluk fantasi tersebut, penulis menyempurnakan ceritanya dengan menghadirkan magi, sejenis dukun atau penyihir yang membantu melawan Nifalr.

Sabtu, 15 September 2012

Perkembangan Makna


                  Perkembangan makna meliputi segala hal  tentang perubahan makna, baik yang meluas, menyempit, atau bergeser. Perkembangan ini sejalan dengan perkembangan penuturnya sebagai pemakai bahasa. Pemakai bahasa yang mewujudkan bahasa dalam bentuk kata dan kalimat. Dalam hal ini, mereka menggunakan kata-kata dan kalimat, baik dengan menambah, mengurangi, atau mengubahnya.

1.   Perubahan Makna
            Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan makna, yaitu:
a.   faktor kebahasaan (linguistic causes)
b.   faktor kesejarahan (historical causes)
c.   faktor sosial (social causes)
d.   faktor psikologis (psychological causes)
e.   pengaruh bahasa asing
f.    kepentingan akan kata-kata baru
            Adapun perubahan makna tersebut dibedakan berdasarkan akibatnya, yaitu:

a.  Perubahan Makna dari Bahasa Daerah ke Bahasa Indonesia
Perubahan makna dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia dapat dicermati pada contoh kata seni. Kata seni ini memiliki kesepadanan dengan kata kunst yang berasal dari bahasa Belanda. Kata seni memiliki makna: (i) halus, (ii) air kencing, (iii) kecakapan membuat sesuatu yang indah (Poerwadarminta dalam Djajasudarma, 1993: 65). Bagi masyarakat Melayu, seni lebih banyak dihubungkan dengan air seni atau air kencing.

b.  Perubahan Makna Akibat Lingkungan
Lingkungan masyarakat dapat menyebabkan perubahan makna suatu kata. Kata yang dipakai dalam lingkungan tertentu belum tentu sama maknanya dengan kata yang dipakai pada lingkungan yang lain. Contoh tersebut dapat dilihat pada kalimat di bawah ini:
(i)   Buku ini dicetak oleh Balai Pustaka.
(ii)  Cetakan batu bata itu besar-besar.
(iii) Ali mencetak tiga gol dalam pertandingan sepak bola kemarin.
Kalimat pertama, makna cetak bergerak di lingkungan persuratkabaran, berbeda dengan kalimat kedua dan ketiga yang bergerak di bidang bagunan (arsitek) dan olahraga.

c.   Perubahan Makna Akibat Pertukaran Tanggapan Indera
Perubahan makna ini dapat juga disebut dengan sinestesia. Pertukaran ini berhubungan dengan alat indera manusia, misalnya pertukaran indera pendengaran dengan indera penglihatan, indera perasa dengan penglihatan.
Contoh pertukaran tersebut dapat dicermati melalui kalimat-kalimat di bawah ini.
(i)    Kata-katanya terlalu pedas.
(ii)  Gadis itu sangat manis sekali.
(iii) Kata-katanya sangat menyejukkan hati.
(iv) Wajahnya sangat sedap dipandang mata.

d.   Perubahan Makna Akibat Gabungan Kata
Gabungan kata dapat mengakibatkan perubahan pada makna. Contoh gabungan kata tersebut dapat dilihat di bawah ini:
(i)      surat perintah
(ii)     surat keterangan
(iii)    surat kaleng
   Surat yang dikirimkan orang tanpa menyebutkan alamat pengirim disebut surat kaleng, sama sekali tidak ada hubungan makna antara surat dan kaleng. Akan tetapi, makna asosiasi masih dapat terlihat pada gabungan kata surat keterangan dan surat perintah.

e.   Perubahan Makna Akibat Tanggapan Pemakai Bahasa
Perubahan akibat tanggapan pemakai bahasa, cenderung mengarah ke arah menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Kata yang mengarah pada hal yang menyenangkan disebut amelioratif, sedangkan kata yang mengarah pada yang tidak menyenangkan disebut peyoratif.
Contoh kata yang amelioratif adalah kata juara. Kata juara dulu bermakna “penyabung ayam”. Akan tetapi, kata juara pada masa sekarang memiliki makna yang positif (menyenangkan), yaitu pemenang, seperti pada juara renang, juara dunia, dan sebagainya.
Sedangkan contoh kata yang peyoratif adalah gerombolan. Dulu, kata gerombolan memiliki makna yang positif yaitu “orang yang berkelompok”. Akan tetapi, sejak munculnya pemberontakan di Indonesia, kata gerombolan memiliki makna negatif, tidak menyenangkan, bahkan menakutkan. Hal ini disebabkan, pada masa sekarang kata gerombolan dipadankan dengan pengacau, pemberontak, perampok, dan pencuri.

f.    Perubahan Makna Akibat Asosiasi
Asosiasi adalah hubungan antara makna asli dengan makna baru. Makna ini dapat dihubungkan dengan waktu atau peristiwa, tempat atau lokasi, warna, maupun tanda atau gambar tertentu.

2.   Proses yang Mengakibatkan  Perubahan Makna

a.   Hubungan Sintagmatik
Satuan leksikal dapat mengalami perubahan arti karena (i) kekeliruan pemenggalan morfem-morfem, misalnya Kata Jawa pramugari yang terjadi dari pra- dan bentuk dasar mugari ‘pembantu tuan rumah pada peralatan’. Pemenggalan yang salah untuk menghasilkan bentuk-bentuk lain muncul pada kata pramuniaga, pramuwisma, dan lainnya. Bentuk pramu- akhirnya dihubungkan dengan ‘pemberi jasa’. (ii) Persandingan yang lazim, yang disebut kolokasi. Misalnya bentuk nasib yang dapat bersanding dengan baik dan buruk. Akan tetapi, yang sering muncul adalah nasib buruk daripada nasib baik, sehingga di masyarakat maknanya menjadi berkonotasi buruk. Contohnya: Memang sudah nasibnya untuk hidup sendiri. (iii) Penghilangan salah satu unsur. Contohnya, bentuk acuh tak acuh yang berarti ‘tidak menghiraukan’ menjadi acuh dengan arti sama ‘tidak menghiraukan’.

b.   Rumpang di dalam Kosakata
Kosa kata bahasa Indonesia terkadang kekurangan bentuk untuk mengungkapkan konsep tertentu. Penutur bahasa dapat memilih satuan leksikal yang ada dan (i) menyempitkan maknanya. Misal pada kata pesawat ‘alat’, ‘mesin’, di kalangan penerbang menjadi sempit maknanya sehingga disamakan dengan pesawat terbang. (ii) meluaskan makna satuan leksikalnya. Contohnya, munculnya ayah kandung, selain terdapat ibu kandung dan saudara kandung meskipun ayah tidak pernah mengandung atau berada dalam satu kandung. Bentuk ini kemudian memiliki hubungan pertalian kekerabatan. (iii) memakai metafor atau kiasan. Misalnya kata catut yang maknanya sendiri adalah ‘alat pencabut paku’ kemudian disamakan dengan ‘calo’. (iv) acuan yang ada di luar bahasa. Contohnya bentuk perakitan dan merakit yang bermakna ‘menyatukan komponen-komponen’ di bidang automotif dipakai padanan assemble atau assembling.

c.   Perubahan Konotasi
Konotasi atau disebut juga tautan yang menyertai makna kognitif, sangat bergantung pada pembicaranya, pendengar, dan situasi yang melingkupinya. Berdasarkan itu ada yang menjurus pada yang positif dan adapula yang menjurus ke negatif. Kata yang menjurus ke arah yang positif misalnya ceramah dan kata yang menjurus ke arah yang negatif misalnya terlibat.
 
d.   Peralihan dari Pengacuan yang Konkrit Menjadi Abstrak
Peralihan dari acuan yang konkrit menjadi abstrak dapat dicermati pada contoh mencakup (menagkap dengan mulut, seperti buaya mengatupkan mulutnya apabila banyak lalat yang masuk) menjadi mencakup (termasuk di dalamnya).

e.   Sinestesia
Sinestesia adalah penggabungan dua macam tanggapan pancaindera terhadap satu hal yang sama. Misalnya pada gabungan kata muka masam, yang terjadi dari kombinasi antara indera penglihatan (muka) dan indera perasa (masam)

f.    Penerjemahan Harfiah
Pemungutan konsep baru yang diungkapkan di dalam bahasa lain terjadi juga lewat penerjemahan kata demi kata, sehingga bentuk terjemahan itu memperoleh arti baru yang tidak dimiliki sebelumnya. Salah satu akibat proses perubahan makna yang terjadi adalah adanya satuan leksikal kuno dan satuan leksikal yang usang. Satuan leksikal kuno adalah satuan yang kehilangan acuannya karena acuannya tersebut berada di luar bahasa masa kini. Sedangkan satuan leksikal yang usang diakibatkan penurunan frekuensinya.

3.   Perluasan Makna
Makna dapat mengalami perluasan, misalnya pada kata saudara, bapak, dan ibu. Dulu digunakan untuk menyebut orang yang seketurunan (sedarah). Kata saudara dihubungkan dengan kakak atau adik yang seayah dan seibu. Kata bapak selalu dihubungkan dengan orang tua laki-laki, sedangkan kata ibu selalu dihubungkan dengan orang tua perempuan. Akan tetapi, pada masa sekarang kata-kata tersebut telah mengalami perluasan makna. Kata bapak digunakan untuk menyebut laki-laki yang tua, meskipun tidak ada pertalian darah; kata ibu juga sama halnya dengan kata bapak yang mengalami perluasan untuk menyebut perempuan yang tua; kata saudara digunakan untuk menyebut orang yang sebaya dengan pembicara.

4.   Pembatasan Makna
Makna kata dapat mengalami pembatasan, atau makna yang dimiliki lebih terbatas dibandingkan dengan makna semula. Misalnya kata tukang yang memiliki makna luas ‘ahli’ atau ‘dapat mengerjakan sesuatu’. Sekarang makna tersebut mengalami pembatasan seperti pada (i) tukang kayu, (ii) tukang catut, dan (iii) tukang tambal ban.

5.   Pergeseran Makna
Pergeseran makna merupakan salah satu akibat dari perkembangan makna. Pergeseran ini dapat terjadi dengan cara menggati simbol, misalnya kata tahanan ‘tempat orang ditahan atau dipenjara setelah mendapat putusan dari hakim untuk menjalani hukuman’. Sekarang muncul lembaga kemasyarakatan yang maknanya mengalami pergeseran, yaitu bukan hanya tempat untuk menahan tetapi juga dijadikan tempat untuk mengubah tingkah laku terpidana agar kelak dapat diterima kembali oleh masyarakatnya.
Pergeseran makna selain melalui penggantian simbol, juga dapat dilakukan dengan mengubah bentuk imperatif pada bentuk segera laksanakan! Bergeser maknanya menjadi eufemisme, yaitu harap dilaksanakan atau mohon dilaksanakan. Hal ini dilakukan melalui pertimbangan psikologis lawan tutur untuk memperhalus dalam penggunaan kata-kata agar tidak terkesan kasar.

Pendidikan dan Kebudayaan


1.   Pendahuluan
Proses pendidikan dapat dibagi menjadi tiga berdasarkan bentuknya, yaitu pendidikan formal, nonformal, dan informal. Di dalam bentuk pendidikan formal secara tradisional ditekankan pada perkembangan kemampuan intelektual peserta didik.  Bentuk nonformal  lebih menekankan pada pembentukan kemampuan keterampilan seseorang. Sedangkan bentuk informal, lebih menekankan pada pembentukan emosi dan berbagai jenis kemampuan intelegensi yang sering terabaikan di dalam lembaga-lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Akibatnya, peran kebudayaan dalam lembaga pendidikan untuk menghasilkan manusia seutuhnya, hanya ditujukan pada intelektual semata dan alat produksi tenaga kerja. Padahal, gelombang globalisasi akibat kemajuan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dapat menjadi bahaya terhadap identitas budaya suatu bangsa.
Makalah ini akan membahas mengenai kebudayaan dalam pendidikan nasional dan keterkaitan antara pendidikan dan kebudayaan pada masa sekarang. 

2.   Kebudayaan dalam Pendidikan Nasional
Kebudayaan di dalam pendidikan nasional bukanlah hal yang baru. Bahkan, pendidikan nasional di dalam bentuknya merupakan kegiatan kebudayaan. Ketika pendidikan nasional belum terbentuk suatu sistem atau ketika pendidikan untuk bangsa Indonesia belum ada dan hanya pendidikan model kolonial pada masa penjajahan, pendidikan dalam arti yang luas tetap ada di dalam masyarakat dan bangsa Indonesia di dalam kegiatan kebudayaan.
Dalam era reformasi ini diharapkan lahir manusia-manusia yang cerdas dan berbudaya yang akan menjadi pilar-pilar yang kukuh. Cerdas dalam hal ini bukan hanya menyangkut masalah kecerdasan intelektual, tetapi kecerdasan emosi, spritual, etika, dan estetika. Apabila hanya satu aspek saja dari pribadi manusia yang dikembangkan, hasilnya dapat kita lihat pada masa-masa sebelum reformasi. Hasil yang telah dicapai merupakan kegagalan dalam pendidikan nasional. Sistem pendidikan nasional telah menghasilkan manusia-manusia parsial dalam perkembangan kepribadiannya, manusia yang mudah dibangkitkan amarahnya, yang tidak toleran, dan kurang bertanggung-jawab terhadap kehidupan sesamanya. Kehidupan yang bercorak KKN menunjukkan kualitas manusia yang tidak berbudaya. Kerusuhan, gejala-gejala disintegrasi bangsa yang menunjukkan kurangnya komitmen terhadap kehidupan Indonesia yang bersatu. Manusia Indonesia seakan-akan kehilangan pegangan yang mengikat dalam kehidupan bersama membentuk suatu masyarakat Indonesia yang adil dan damai. Unsur pengikat itu adalah nilai-nilai kebudayaan yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

3.   Pendidikan dan Kebudayaan
Suatu pendidikan tidak terjadi dengan vakum, tetapi terlaksana di dalam suatu kehidupan berbudaya yang dimiliki oleh setiap masyarakat. Kepribadian tiap individu terbentuk karena adanya nilai-nilai budaya tempat mereka dilahirkan, dibesarkan, dan dididik. Tanpa kebudayaan, tidak mungkin lahir suatu kepribadian. Oleh karena itu, proses pendidikan tidak terlepas dari proses pembudayaan. Dari nilai-nilai kebudayaan yang terwujud di dalam kehidupan keluarga, masyarakat lokal, masyarakat nasional, dan seterusnya ke dalam kehidupan masyarakat dunia, semuanya terwujud di dalam nilai-nilai yang hidup di dalam lingkungan kemanusiaan yang semakin meluas. Pendidikan bukan semata-mata hanya untuk mentransformasikan nilai-nilai universal, tetapi juga nilai-nilai partikular atau khusus yang hidup di dalam masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari pengalaman-pengalaman pendidikan di dalam masyarakat yang multi-etnis. Tilaar (2000: 191) mengungkapkan mengenai pengalaman pendidikan di masyarakat multi-etnis yang menunjukkan bahwa pendidikan akan berhasil apabila bertitik-tolak dari nilai-nilai budaya asal yang secara bertahap memasuki nilai-nilai yang dimiliki oleh masyarakat yang lebih luas.
Ahli antropologi seperti Geertz  menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang terkungkung dalam jaringan-arti yang ditentukannya sendiri (dalam Tilaar, 2000: 191). Maksudnya, manusia tidak akan menjadi dewasa jika terpisah dari masyarakatnya yang memiliki kebudayaan sendiri. Karena, manusia terkungkung di dalam kebudayaannya. Namun, manusia bukanlah semata-mata hasil kungkungan dari nilai-nilai kebudayaan. Kebudayaan itu sendiri merupakan jaringan-arti yang merupakan hasil tenunan manusianya sendiri. Kreativitas, inovasi, dan akulturasi di dalam transmisi kebudayaan menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang aktif. Kemampuan kreativitas dan aktivitas manusia adalah hasil dari proses pendidikan. Ini berarti, jika proses pendidikan tidak melahirkan manusia-manusia yang kreatif dan kritis, jaringan-arti yang ditenunnya semakin lama semakin kaku, kadaluwarsa, dan akhirnya mati. Dengan kata lain, kebudayaan tidak terlepas dari proses pendidikan, sebagaimana proses pendidikan itu sendiri yang juga tidak terlepas dari jaringan kebudayaan.
Kekeliruan selama ini dalam proses pendidikan nasional adalah kecenderungan memisahkan proses pendidikan dari nilai-nilai kebudayaan. Hal ini terjadi karena nilai-nilai kebudayaan telah direduksikan sebagai nilai-nilai intelektual. Sehingga, pendidikan yang menitik-beratkan pada intelektualisme berakibat bukan hanya pada terancamnya kebudayaan, tetapi juga pada pendidikan itu sendiri.  Belum lagi jika kita berbicara mengenai kebhinekaan budaya Indonesia yang mengandung nilai-nilai yang sarat akan nilai-nilai moral, etis, dan nilai-nilai lainnya. Kebudayaan lokal mulai dilupakan dan kebudayaan nasional mungkin tersingkirkan, sisanya hanya nilai-nilai budaya yang dapat dikomersilkan.

4.  Simpulan
 Pada masa sekarang peranan kebudayaan dalam suatu lembaga pendidikan untuk menghasilkan manusia seutuhnya hanya ditujukan pada intelektual semata. Padahal, manusia-manusia yang cerdas dan berbudaya diharapkan dapat menjadi pilar-pilar yang kokoh. Dalam hal ini, kecerdasan tidak hanya menyangkut masalah kecerdasan intelektual, tetapi kecerdasan emosi, spritual, etika, dan estetika.
Kepribadian tiap individu terbentuk karena adanya nilai-nilai budaya tempat mereka dilahirkan, dibesarkan, dan dididik. Tanpa kebudayaan, tidak mungkin lahir suatu kepribadian. Manusia adalah makhluk yang aktif. Kemampuan kreativitas dan aktivitas manusia adalah hasil dari proses pendidikan. Hal ini berarti kebudayaan tidak terlepas dari proses pendidikan.